Pongel Cah Cirebon About Inderscience Contact Information Current Site Map General Help
  KUMPULAN JURNAL, MAKALAH, TA, SKRIPSI, MATERI

Kedudukan Guru dan Murid Dalam Pendidikan
Penulis :

Rabu, 25 Mei 2011 - 07:32:47 WIB


Abstracting/Indexing Services and Journal Lists

A.         Sentral Kajian

وعنه ضي الله عنه قا ل : سمعت رسول الله ص م يقول : الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكرالله تعالى وماوالاه وعالمااومتعلما (رواه الترمذىوقا ل حديث حس)[1]

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda : “ Dunia dan segala isinya adalah terkutuk kecuali zikir dan taat kepada Allah ta’ala, serta orang alim dan orang yang belajar. (HR. Turmudzi)



[1] An Nawawi,Riyadus Shalihin, hal 318

 

B.    Penjelasan hadist
Dalam hadist diatas betapa dimuliakannya orang alim (guru) dan orang belajar (murid), yang tidak dijadikan salah satu yang dikutuk. Allah memerintahkan kepada manusia untuk menuntut ilmu yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Orang yang belajar (murid) tidak dapat berdiri sendiri melainkan mencari guru. Meskipun akal dan otak manusia mungkin menghasilkan pengetahuan namun masih ada hal-hal yang tidak dapat dijangkaunya, yaitu hal-hal yang diluar akal manusia. Sehingga dibutuhkan orang lain yatu orang alim(guru). Dan menutut ilmu merupakan pendekatan diri kepada Allah SWT, dan suruhan yang wajib bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan agar tergolong menjadi orang yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Dan bagi para guru dan alim ulama haruslah beringan tangan mentranferkan ilmunya kepada orang yang belum mengetahui, sesungguhnya perbuatan yang demikian adalah shodaqoh. Hal inilah yang menyebabkan guru dan murid (orang yang belajar) menempati kedudukan yang mulia dan terhormat.seperti yang terdapat dalam hadist :


Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')
Murid dalam menuntut ilmu atau dalam proses pembelajaran haruslah  mengabdikan sepenuhnya kepada guru tersebut. Dan paling tidak seorang murid mempunyai akhlak dan adab dalam menuntut ilmu terhadap gurunya, yakni membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit hati, karena belajar adalah ibadah, dan dalam menuntut ilmu haruslah penuh kesabaran dan tabah, serta menghormati gurunya. Dari adab tersebut betapa mulia dan pentingnya kedudukan guru (pendidik), dan posisi guru hampir mendekati Rasul, dalam proses pembelajaran maupun tidak kita haruslah bersikap santun dan menghormati guru dan menjadikannya teladan (uswah) .
Interakasi atau hubungan guru dan murid merupakan hal yang penting. Sejarah pendidikan islam bahwasanya bersikap menampilkan pola hubungan guru-murid berdasarkan rasa cinta, cermat, dan persahabatan. Hubungan guru-murid dalam pendidikan islam selalu memiliki aspek yang sangat personal, dimana seorang penuntut ilmu mencari seorang guru, bukan lembaga, lalu mengabdikan diri sepenuhnya kepada guru tersebut. Hubungan yang terjalin antara guru dan murid selalu intim; seorang murid menghormati gurunya seperti seorang ayah dan mematuhinya, bahkan dalam hal-hal pribadi yang tak langsung berkaitan dengan pendidikannya secara norma
Dalam hadist riwayat (HR. Ath- Thabrani)


Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)
Mengajarkan ilmu merupakan suatu pekerjaan yang utama, mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia atau masyarakat secara luas, agar mereka tidak dalam kebodohan. Meskipun pengajar dan pendidik mempunyai konotasi yang berbeda, namun masing-masing mempunyai fungsi yang seharusnya tidak bisa terpisah dari guru. 
RASULULLAH bersabda, "Sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar”. 


Dalam hadits lain Rasulullah menegaskan, "Barang siapa mendidik seorang anak kecil hingga ia mampu mengucapkan kalimat laa ilaaha illa Allah, maka Allah tidak akan menghisabnya kelak". 
Dari hadist diatas pula diperlukan sikap sabar dalam melakukan pengajaran dan ketekunan bagi anak didik dalam menuntut ilmu. Rangkaian dua hadits di atas, kriteria guru, baik dan sifat, sikap dan kepribadian serta wataknya. Secara umum, paling tidak seorang guru harus memiliki beberapa sifat, yaitu: zuhud, ikhlas, suka mema’afkan, memahami tabi'at murid, berkepribadian yang bersih, bersikap sebagaimana bapak terhadap anaknya dan menguasai mata pelajaran yang menjadi bidangnya. Kerja mengajar dan membimbing/mendidik adalah tugas seorang guru. Sifat pokok yang harus dimiliki guru adalah kasih sayang dan lemah lembut. Pergaulan murid dengan guru akan melahirkan sikap percaya kepada diri sendiri dan rasa tenteram bersama gurunya. Bersikap adil, dan berwibawa. Hal ini sangat membantu murid menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya.
Seorang guru wajiblah mengajar muridnya karena Allah semata – bukan karena yang lain, sehingga ia berbuat dengan penuh nasehat kepadanya, dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, dan bersikap ramah kepadanya pada saat ia tidak mampu menanggung beban latihan yang ia berikan kepadanya.
Ia harus mengawali pendidikannya dengan hal-hal yang paling ringan terdahulu, kemudian barulah meningkat kepada yang lebih berat dari itu.
Pertama kali, ia menyuruhnya untuk meninggalkan memperturutkan hawa nafsu dalam segala urusannya, diganti dengan mengikuti rukhash – bentuk jama` dari rukhsakh – (keringanan-keringanan) yang diberikan oleh syari`at, agar ia bisa terlepas dari kungkungan hawa nafsunya itu dan hanya terkait dengan syari`at Allah. Setelah itu, beralih secara berlahan kepada perintah untuk memiliki `azimah (tekad yang kuat) untuk meninggalkan kedua-duanya (hawa nafsu dan rukhshah). Jika ternyata ia lihat si murid telah mampu sampai ke tahap `azimah ini, baru-lah ia melanjutkannya kepada tingkat yang lebih tinggi lagi.


Pendidik, pendidik kodrat adalah orang tua, sedangkan pendidik jabatan adalah guru. Hakikat pendidik sebagai agen pembaruan, pemimpin, fasilisator, sebagai penanggung jawab hasil belajar, sebagai contoh bagi murid, Sebagai pekerja profesional yang menjunjung kode etik, dan Sebagai manusia yang terus meningkatkan kemampuannya. Selain itu guru memiliki peranan, Sebagai komunikator (pembawa ilmu), Sebagai fasilitator (pelancar proses belajar), Sebagai motivator (pemicu minat belajar), Sebagai administrator (pelaksana administrasi kelas), Sebagai konselor (pembimbing murid yang bermasalah). Disini guru diharuskan memiliki kemampuan untuk membawa murid-muridnya dalam mengembangkan keterampilan, kemampuan, dan apa yang dicita-citakan sesuai dengan harapan yaitu untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Murid dalam proses pendidikan saling mendukung. Dalam menuntut ilmu haruslah bersungguh-sungguh dan tidak pernah berhenti. Hendaklah kita jangan mudah puas atas ilmu yang kita dapatkan sehingga kita enggan untuk mencari lebih banyak lagi. Sabar dalam menuntut Ilmu harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah sabar terhadap gurunya. Di antara penghormatan murid terhadap gurunya adalah berdiam diri maupun bertanya pada saat yang tepat dan tidak memotong pembicaraan guru, mendengarkan dengan penuh khidmat, dan memperhatikan ketika beliau menerangkan, dan sebagainya. Memberikan respons dengan bertanya hendaknya untuk menghilangkan keraguan dan kebodohan diri kita.


Guru yang ideal itu mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai obyek (terdidik) dan sebagai subyek (pendidik). Kedua fungsi yang melekat pada diri guru ini harus sama-sama aktif. Oleh karenanya guru dalam posisi atau fungsi apapun dituntut untuk berwatak kreatif, produktif, dan inovatif. Dalam setiap kondisi dan situasi ia haruslah selalu dalam proses yang dinamis, tidak monoton. Sifat monoton dapat menumbuhkan situasi statis, dan membosankan, dibutuhkan keprofesionalan dan membawa ke suasana yang menyenangkan.


Di sini peningkatan kemampuan seorang guru jelas hanya akan tergantung pada sejauh mana proses tersebut di atas dapat diwujudkan secara terus menerus untuk mencapai suatu tujuan yang terkait dengan bidang studi mau pun lembaga (sekolah) tempat ia mengajar. Sebagai guru ia terikat oleh tujuan bidang studinya, baik tujuan instruksional maupun tujuan umum termasuk tujuan pribadi. Yang dimaksud tujuan pribadi adalah penanaman atau sosialisasi karakter atau kepribadian (syakhshiyah), sehingga dengan demikian seorang guru agama dituntut berkarakter yang baik.
Watak bagi seorang guru seperti di atas sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak didik yang yaitu kepribadian yang diorientasikan pada al-akhlaq al-karimah dan keimanan yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik dalam kehidupan sehari-hari.  Sedangkan murid yang ideal murid yang inovativ, memiliki daya kreasi yang tinggi dalam keadaan apapun, demi pengembangan kemampuan dan penambahan ilmunya dalam menuntut ilmu.


Nilai-Nilai Tarbawi
Allah memberikan kemuliaan bagi orang alim (guru) dan orang belajar (murid), Manusia menuntut ilmu tidak lain agar berguna bagi dirinya dan orang lain. Orang yang belajar (murid) tidak dapat berdiri sendiri melainkan mencari guru dan sesungguhnya perbuatan berbagi ilmu adalah shodaqoh.. Dalam hal ini dibutuhkan adanya interaksi timbal balik dalam proses transfer ilmu antara guru dan murid, serta Peranan guru yang sebagai motifator, administrator, dan inovator menjadikan pembelajaran yang aktif, inovatif, dan kreatif. 
Seorang guru wajiblah mengajar muridnya karena Allah semata – bukan karena yang lain, sehingga ia berbuat dengan penuh nasehat kepadanya, dan memperlakukannya dengan penuh kasih saying seperti ayah dan ibu kepada anaknya, dan bersikap ramah kepadanya anak didiknya, adil dan berwibawa sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan tidak terkekang, dan mudah diserap oleh murid. Dalam memberikan latihan seorang guru terlebih dahulu memberikan hal-hal yang ringan agar membantu memudahkan pemahaman, setelah itu, beralih secara berlahan kepada perintah untuk memiliki `azimah (tekad yang kuat).
Murid dalam menuntut ilmu atau dalam proses pembelajaran haruslah  mengabdikan sepenuhnya kepada guru tersebut. Dan paling tidak seorang murid mempunyai akhlak dan adab dalam menuntut ilmu, serta menghormati gurunya. Dari adab tersebut betapa mulia dan pentingnya kedudukan guru (pendidik), suasana belajar yang saling menghormati.

DAFTAR PUSTAKA
Nawawi, Imam. 1999. Riyadus Sholihin. Edisi Revisi cetakan pertama. Jakarta : Pustaka Amani.
http://groups.yahoo.com/group/mualafind
http://pcinu-mesir.tripod.com/ilmiah/pusaka/ispustaka/buku07/032.htm\
http://steo-cool.blog.friendster.com/2009/01/majlis-ilmu-dan-interaksi-guru-murid/


 



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)