Pongel Cah Cirebon About Inderscience Contact Information Current Site Map General Help
  KUMPULAN JURNAL, MAKALAH, TA, SKRIPSI, MATERI

Jenis-jenis Penyakit
Penulis :

Rabu, 25 Mei 2011 - 14:31:44 WIB


Abstracting/Indexing Services and Journal Lists

* BATUK-PILEK

          Timbulnya batuk-pilek, menurut Handi, dibedakan menjadi dua, yakni yang disebabkan virus maupun alergi yang sudah diidap anak sebelumnya. Keduanya berpeluang meningkat di musim kemarau yang ditandai dengan hidung berlendir dan tersumbat disertai demam, pusing, dan gejala lainnya.
          Untuk mengetahui apakah penyebab keluhan batuk-pilek tersebut adalah virus atau alergi, mesti ditelusuri latar belakang si anak. Bila sebelumnya anak tak pernah mengalami alergi, kemudian muncul batuk-pilek, penyebabnya hampir bisa dipastikan adalah virus. Sedangkan, bila si kecil memang sudah mengidap alergi, penyebab batuk-pileknya bisa alergen (benda pemicu/penyebab alergi) atau virus. Alergen bisa berupa debu, makanan, minuman, dan cuaca. Kalau anak minum es kemudian flu, contohnya, besar kemungkinan ia alergi dingin atau yang sering disebut rinitis alergi. Nah, bila daya tahannya menurun, tidak tertutup kemungkinan bakal terinfeksi virus.
Bila lendir yang dihasilkan kemudian masuk ke tenggorokan biasanya akan menyebabkan batuk yang merupakan gerakan refleks guna melindungi paru-paru. Dengan demikian jika ada benda asing seperti lendir yang masuk atau merangsang saluran penapasan, otomatis akan terjadi batuk untuk mengeluarkan benda tersebut.
           Bila penyebabnya bakteri, maka pengobatan yang umum dilakukan adalah pemberian antibiotika, penghilang demam, dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara pada anak pengidap alergi, lanjut Handi, "Sebaiknya tidak diberikan antibiotika karena bila daya tahan tubuhnya normal, keluhan akan hilang dengan menghindari alergen."

* RADANG TENGGOROKAN
Radang tenggorokan (faringitis) bisa disebabkan virus atau bakteri yang langsung masuk ke faring atau dimulai dengan batuk-pilek. "Batuk-pilek yang tidak ditanggulangi secara tuntas dapat menyebabkan radang tenggorokan, lo,"
Di bawah faring ada yang namanya laring. Bila infeksi sudah mengena laring (disebut dengan laringitis), umumnya akan ditandai dengan suara parau atau malah hilang, disertai keluhan pusing dan demam. Pengobatannya, selain dengan vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh, juga diberikan obat pereda batuk dan antibiotika. Namun antibiotika hanya digunakan untuk faringitis maupun laringitis yang disebabkan bakteri.
Penyakit karena virus atau akibat alergi biasanya tidak ditangani dengan pemberian antibiotika. Pertimbangannya, penyakit karena virus umumnya bersifat self limiting desease alias akan sembuh dengan sendirinya asalkan daya tahan tubuh yang bersangkutan cukup bagus. Obat yang diberikan hanyalah yang bersifat simptomatis atau menghilangkan gejalanya saja. Untuk flu yang disertai panas atau pusing, contohnya, digunakan obat penurun panas dan pereda sakit kepala serta pelega hidung jika hidungnya tersumbat.

* BRONKHITIS
Bronkhitis adalah terjadinya peradangan pada bronkhus. Bronkhitis merupakan penyakit pernapasan yang lebih serius ketimbang batuk-pilek karena kalau dibiarkan akan timbul pneumonia. Penyebabnya sama yakni virus, bakteri dan alergi. Seperti radang tenggorokan, bronkhitis bisa terjadi karena virus atau bakteri yang langsung bersarang di sana ataupun merupakan rentetan dari penyakit saluran napas bagian atas.
Penanganan bronkhitis bisa dilakukan dengan berobat jalan. Namun pada beberapa kasus, semisal sudah terjadi pembengkakan pada bronkhus yang membuat saluran napas jadi sempit hingga penderita sulit bernapas, tentu saja dibutuhkan perawatan di rumah sakit. Terlebih, bila disertai demam tinggi. Gejalanya, batuk terus-menerus, suara agak parau, pusing, demam dan kadang terjadi sesak napas. Bila pengobatan dilakukan dengan baik, bronkhitis sebetulnya bisa diatasi dengan segera.

* PNEUMONIA ATAU RADANG PARU
            Kalau bronkhitis tidak ditangani dengan baik secara tuntas, bisa saja muncul pneumonia atau radang paru yang tingkatannya lebih berat. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkhus yang biasa disebut bronkhopneumonia. Gejala yang muncul umumnya berupa napas yang memburu/cepat dan sesak napas karena paru-paru mengalami peradangan. Memastikan apakah napas anak tergolong cepat atau tidak bisa, kok, dilakukan sendiri dengan cara sederhana. Dikatakan cepat bila frekuensi pernapasannya 50 kali atau lebih per menit pada bayi usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, atau 40 kali per menit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Sejauh ini, pada bayi di bawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.
Pada bayi usia 2 bulan sampai anak kurang dari 5 tahun, pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk atau kesukaran bernapas, sesak napas ataupun penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam. Di tingkat yang lebih parah, pneumonia memperlihatkan gejala batuk, kesukaran bernapas, dan bahkan tidak bisa minum. Sementara pada bayi di bawah 2 bulan, pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih dan penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
Jika tidak ditangani secara baik dan tuntas, bukan tidak mungkin muncul komplikasi penyakit, seperti batuk darah, pleural effusion, radang selaput otak, penyebaran kuman TBC ke orang lain, atau malah berakhir dengan kematian.

* ASMA

 

           Penyakit lain yang sering kambuh pada masa ini adalah asma karena peredaran alergen biasanya meningkat oleh tiupan angin. "Di musim kemarau, kan, banyak debu, hingga serangan asma pun bisa bertambah," ujar Handi pula. Terutama pada individu yang hipersensitif terhadap debu yang terbawa oleh tiupan angin tadi. Bisa juga alergennya berupa tungau, bulu binatang, polusi udara, termasuk asap kendaraan bermotor, serta perubahan cuaca itu sendiri.
            Satu-satunya jalan untuk mengatasi keluhan ini adalah menghindarkan/menjauhkan anak dari alergen. Sementara untuk mengetahui alergen mana yang bisa menjadi pencetus asma perlu pemeriksaan terhadap keseharian anak. Kalau setiap kali terkena debu, anak lantas bersin-bersin atau batuk, maka sedapat mungkin jauhkan anak dari tempat yang berdebu. Atau bila setelah minum es, anak langsung pilek dan batuk, ya sebisa mungkin jangan bolehkan anak mengonsumsi makanan/minuman dingin.

* BATUK-PILEK
          Timbulnya batuk-pilek, menurut Handi, dibedakan menjadi dua, yakni yang disebabkan virus maupun alergi yang sudah diidap anak sebelumnya. Keduanya berpeluang meningkat di musim kemarau yang ditandai dengan hidung berlendir dan tersumbat disertai demam, pusing, dan gejala lainnya.
          Untuk mengetahui apakah penyebab keluhan batuk-pilek tersebut adalah virus atau alergi, mesti ditelusuri latar belakang si anak. Bila sebelumnya anak tak pernah mengalami alergi, kemudian muncul batuk-pilek, penyebabnya hampir bisa dipastikan adalah virus. Sedangkan, bila si kecil memang sudah mengidap alergi, penyebab batuk-pileknya bisa alergen (benda pemicu/penyebab alergi) atau virus. Alergen bisa berupa debu, makanan, minuman, dan cuaca. Kalau anak minum es kemudian flu, contohnya, besar kemungkinan ia alergi dingin atau yang sering disebut rinitis alergi. Nah, bila daya tahannya menurun, tidak tertutup kemungkinan bakal terinfeksi virus.
Bila lendir yang dihasilkan kemudian masuk ke tenggorokan biasanya akan menyebabkan batuk yang merupakan gerakan refleks guna melindungi paru-paru. Dengan demikian jika ada benda asing seperti lendir yang masuk atau merangsang saluran penapasan, otomatis akan terjadi batuk untuk mengeluarkan benda tersebut.
           Bila penyebabnya bakteri, maka pengobatan yang umum dilakukan adalah pemberian antibiotika, penghilang demam, dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara pada anak pengidap alergi, lanjut Handi, "Sebaiknya tidak diberikan antibiotika karena bila daya tahan tubuhnya normal, keluhan akan hilang dengan menghindari alergen."

* RADANG TENGGOROKAN
           Radang tenggorokan (faringitis) bisa disebabkan virus atau bakteri yang langsung masuk ke faring atau dimulai dengan batuk-pilek. "Batuk-pilek yang tidak ditanggulangi secara tuntas dapat menyebabkan radang tenggorokan, lo,"
           Di bawah faring ada yang namanya laring. Bila infeksi sudah mengena laring (disebut dengan laringitis), umumnya akan ditandai dengan suara parau atau malah hilang, disertai keluhan pusing dan demam. Pengobatannya, selain dengan vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh, juga diberikan obat pereda batuk dan antibiotika. Namun antibiotika hanya digunakan untuk faringitis maupun laringitis yang disebabkan bakteri.
           Penyakit karena virus atau akibat alergi biasanya tidak ditangani dengan pemberian antibiotika. Pertimbangannya, penyakit karena virus umumnya bersifat self limiting desease alias akan sembuh dengan sendirinya asalkan daya tahan tubuh yang bersangkutan cukup bagus. Obat yang diberikan hanyalah yang bersifat simptomatis atau menghilangkan gejalanya saja. Untuk flu yang disertai panas atau pusing, contohnya, digunakan obat penurun panas dan pereda sakit kepala serta pelega hidung jika hidungnya tersumbat.

* BRONKHITIS
        Bronkhitis adalah terjadinya peradangan pada bronkhus. Bronkhitis merupakan penyakit pernapasan yang lebih serius ketimbang batuk-pilek karena kalau dibiarkan akan timbul pneumonia. Penyebabnya sama yakni virus, bakteri dan alergi. Seperti radang tenggorokan, bronkhitis bisa terjadi karena virus atau bakteri yang langsung bersarang di sana ataupun merupakan rentetan dari penyakit saluran napas bagian atas.
          Penanganan bronkhitis bisa dilakukan dengan berobat jalan. Namun pada beberapa kasus, semisal sudah terjadi pembengkakan pada bronkhus yang membuat saluran napas jadi sempit hingga penderita sulit bernapas, tentu saja dibutuhkan perawatan di rumah sakit. Terlebih, bila disertai demam tinggi. Gejalanya, batuk terus-menerus, suara agak parau, pusing, demam dan kadang terjadi sesak napas. Bila pengobatan dilakukan dengan baik, bronkhitis sebetulnya bisa diatasi dengan segera.

* PNEUMONIA ATAU RADANG PARU
           Kalau bronkhitis tidak ditangani dengan baik secara tuntas, bisa saja muncul pneumonia atau radang paru yang tingkatannya lebih berat. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkhus yang biasa disebut bronkhopneumonia. Gejala yang muncul umumnya berupa napas yang memburu/cepat dan sesak napas karena paru-paru mengalami peradangan. Memastikan apakah napas anak tergolong cepat atau tidak bisa, kok, dilakukan sendiri dengan cara sederhana. Dikatakan cepat bila frekuensi pernapasannya 50 kali atau lebih per menit pada bayi usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, atau 40 kali per menit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Sejauh ini, pada bayi di bawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.
Pada bayi usia 2 bulan sampai anak kurang dari 5 tahun, pneumonia berat ditandai dengan adanya batuk atau kesukaran bernapas, sesak napas ataupun penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam. Di tingkat yang lebih parah, pneumonia memperlihatkan gejala batuk, kesukaran bernapas, dan bahkan tidak bisa minum. Sementara pada bayi di bawah 2 bulan, pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih dan penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
           Jika tidak ditangani secara baik dan tuntas, bukan tidak mungkin muncul komplikasi penyakit, seperti batuk darah, pleural effusion, radang selaput otak, penyebaran kuman TBC ke orang lain, atau malah berakhir dengan kematian.

* ASMA
          Penyakit lain yang sering kambuh pada masa ini adalah asma karena peredaran alergen biasanya meningkat oleh tiupan angin. "Di musim kemarau, kan, banyak debu, hingga serangan asma pun bisa bertambah," ujar Handi pula. Terutama pada individu yang hipersensitif terhadap debu yang terbawa oleh tiupan angin tadi. Bisa juga alergennya berupa tungau, bulu binatang, polusi udara, termasuk asap kendaraan bermotor, serta perubahan cuaca itu sendiri.
          Satu-satunya jalan untuk mengatasi keluhan ini adalah menghindarkan/menjauhkan anak dari alergen. Sementara untuk mengetahui alergen mana yang bisa menjadi pencetus asma perlu pemeriksaan terhadap keseharian anak. Kalau setiap kali terkena debu, anak lantas bersin-bersin atau batuk, maka sedapat mungkin jauhkan anak dari tempat yang berdebu. Atau bila setelah minum es, anak langsung pilek dan batuk, ya sebisa mungkin jangan bolehkan anak mengonsumsi makanan/minuman dingin.


* DIARE
          Penyebabnya adalah bakteri atau kuman yang masuk ke sistem pencernaan. Bisa lantaran kurang memperhatikan faktor kebersihan diri, semisal tidak cuci tangan tangan sebelum makan atau karena makanan itu sendiri yang sudah mengandung bakteri. Untuk mengetahui apakah seseorang menderita diare atau tidak, amati frekuensi buang air besarnya, apakah sudah melampaui kebiasaan. Bisa pula diamati dari struktur BAB-nya, apakah lebih banyak cairannya atau tidak, apakah juga disertai kejang perut, demam dan muntah. Selain merupakan penyakit tersendiri, diare pun bisa diindikasikan sebagai gejala penyakit yang lebih serius, seperti tipus, kolera atau malah kanker usus.
Akibat yang lebih serius adalah dehidrasi yang bisa membahayakan jiwa. Kondisi ini ditandai dengan mata cekung, kulit tidak lentur/elastis dan menurunnya frekuensi buang air kecil secara drastis. Bila mendapati kondisi ini, jangan buang waktu lagi. Segera upayakan agar anak banyak minum, terutama cairan rehidrasi oral seperti oralit, hindari makanan padat atau berbumbu tajam minimal 1-2 hari, dan segera bawa ke dokter agar tidak bertambah parah.

* DEMAM TIFOID
         Di daerah tropis seperti Indonesia, angka kejadian demam tifoid biasanya relatif tinggi dibanding daerah berhawa dingin. Yang juga perlu mendapat perhatian, secara endemik, angka kejadian demam tifoid akan meningkat pada bulan-bulan tertentu. Di Indonesia, contohnya, angka kejadian ini meningkat pada musim kemarau panjang dan di awal musim hujan. Hal ini banyak dikaitkan dengan meningkatnya populasi lalat di musim tersebut, selain penyediaan air bersih yang kurang memadai.
Serangan penyakit didahului oleh masa inkubasi yang bervariasi dari 1 sampai 3 minggu atau 10-14 hari. Selama masa inkubasi umumnya yang bersangkutan akan merasakan keluhan berupa mual-muntah, rasa lelah, kepala pusing, tidak ada nafsu makan, batuk, nyeri kepala, demam, dan nyeri perut. Di tahap awal, suhu tubuh akan naik secara perlahan, kemudian mencapai 40 derajat Celcius. Penderita tampak apatis, muka agak kemerahan, kulit terasa panas dan kering, lidah terlihat putih dan kotor. Nyeri perut dirasakan pada bagian kanan bawah, meski bisa saja muncul nyeri di seluruh perut.
          Keluhan lain adalah mual, muntah, diare, batuk, dan tanda-tanda bronkhitis. Gejala yang khas adalah roseola atau timbulnya bercak warna kemerahan, limpa teraba dan abdomen mengalami distensi. Semakin lama suhu tubuh kian meninggi, dibarengi penurunan kesadaran, bibir dan lidah kering dan menurunnya tekanan darah. Bila penurunannya terjadi secara cepat dan mendadak, mesti diwaspadai sebagai pertanda terjadinya perdarahan atau perforsi/usus berlubang. Bila tidak ada komplikasi, umumnya di minggu ketiga mulai terjadi proses penyembuhan.
Pengobatan awal yang perlu dilakukan adalah perawatan umum, dietik (mengatur makanan), dan terapi obat. Bila khawatir telah atau akan terjadi komplikasi, perawatan di rumah sakit sangat dianjurkan. Pengobatan suportif juga perlu diberikan untuk memperbaiki kondisi penderita. Di antaranya pemberian cairan elektrolit bila terjadi gangguan keseimbangan cairan. Begitu juga pemberian vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, disamping jenis kortikosteroid untuk membantu mempercepat penurunan demam.
http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=05230&rubrik=sehat




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)