PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL PADA ANAK SD Penulis :
Rabu, 25 Mei 2011 - 20:26:05 WIB
Abstracting/Indexing Services and Journal Lists
A.
PENGERTIAN PEMBELAJARAN DAN MEDIA
1.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang kondusif, sehingga
proses belajar dapat tumbuh dan berkembang. Ada beberapa istilah yang mirip yaitu,
Pengajaran, Proses belajar Mengajar, dan Pembelajaran. Dari ketiga istilah ini
banyak orang yang menganggap sama artinya, yaitu proses dimana seorang guru
memberikan ilmunya didepan kelas kepada para siswa. Tetapi, sebenarnya terdapat
perbedaan. Peter Drost dan Winarno Surakhmad, pakar pendidikan di lembaga
pendidikan di Indonesia,
mengidentifikasi permasalahan dalam pendidikan di Indonesia adalah ketidakmampuan
banyak orang untuk membedakan, antara pendidikan atau proses pembelajaran
dengan pengajaran.
Pembelajaran atau proses pembelajaran merupakan proses
informal, sehingga tidak ada pendidikan formal. Yang bersifat formal adalah
pengajaran, yakni proses transfer pengetahuan atau usaha mengembangkan dan
mengeluarkan potensi intelektualitas dari dalam diri manusia. Budi pekerti dan
pembentukan karakter yang memilki sifat-sifat seperti integritas, kerendahan
hati, tenggang rasa, menahan diri kesetiaan, keadilan, kesabaran, dan
sebagainya, tidak dapat dilakukan melalui pengajaran.
Pengajaran menyangkut soal teori, sementara pendidikan
sepenuhnya mengenai potensi. Pengajaran (belajar tentang atau mengetahui), dan
pembelajaran (belajar menjadi), perlu diperkaya dengan pelatihan (belajar
melakukan). Proses pembelajaran merupakan proses pembentukan karakter dengan
sifat-sifat tersebut, dan melalui proses belajar mengajar (pengajaran). Peran
proses pelatihan adalah membawa karakter didalam keluar (inside out),
diekspresikan menjadi apa yang disebut Covey sebagai kepribadian. Dengan
demikian, pada satu sisi kita mengetahui ( melalui pengajaran), bahwa karakter
bukan kepribadian itu sendiri. Sementara pada sisi lain, menempatkan karakter
sebagai fondasi dari kepribadian kita.
Dal kata “pembelajaran” lebih menekankan kepada satu proses
pengajaran yang melibatkan siswa aktif melakukan kegitan belajar. Semua titik-titik
sentral didalam kelas dan di luar kelas, serta semua yang ada menjadi media
pembelajaran. Pada pembelajaran terdapat proses pengajaran (bagi guru) dan
belajar (bagi siswa), interaksi keduanya lebih luas berbanding pada pengajaran
dan proses belajar mengajar. Dengan demikian, pembelajaran dapat didefinisikan
sebagai pengaturan suatu kondisi lingkungan yang sebaik-baiknya yang
memungkinkan terjadinya belajar pada siswa. Andrias Horefa (2000 : 47-48)
Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran merupakan cara pandang, cara berfikir dan cara
bersikap seorang guru dalam menyelesaikan persoalan pembelajaran yang dihadapi. Tiap guru berbeda pendekatan
dalam menerapkan pembelajaran yang
digunakannya, walaupun bahan ajar sama. Perbedaan ini menyebabkan setrategi
pembelajaran yang berbeda, seperti ada yang disebut teacher centre strategies (
pengajaran berpusat pada guru), student centre strategies ( pengajaran berpusat
pada siswa) dan material centre strategies
(pengajaran berpusat pada materi bahan ajar). Ketiganya adalah baik
tergantung keadaan. Bagaimanapun kurikulum menuntut aktivitas siswa yang lebih
dominant daripada guru. Sehingga diharapkan struktur kognitif, metakognitif,
sikap, kesadaran, akan terbangun oleh siswa itu sendiri.
Berdasarkan pengolahan pesan materi yang disampaikan kepada
siswa, ada dua jenis strategi pembelajaran, yaitu :
1)
Strategi pembelajaran ekspositori, yaitu guru mengolah
semua materi yang tuntas, sistematis, dan urut kepada siswa di depan kelas,
sehingga siswa tinggal menerima saja.
2)
Strategi pembelajaran heuristik atau kuriostik, siswa
yang mengolah sendiri materi dengan pengarahan dari guru. Biasanya guru
menyampaikan materi tidak sesuai urutan, tidak tuntas, dan tidak sistematis.
Pembelajaran
Terpadu
a.
Hakekat Pembelajaran
Pembelajarn terpadu sebagai suatu konsep, dapat mengerti
secara umum sebagai pendekatan mengajar yang melibatkan konsep-konsep di
berbagai bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa.
Dalam pembelajaran terpadu konsep yang mereka pelajari maupun konsep-konsep
yang didapatkannya melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan
konsep-konsep yang telah diketahui.
Pembelajaran terpadu dapat menyangkut keterpaduan antara
bidang studi atau keterpaduan dalam metode pembelajaran. Keterpaduan antara
bidang studi dimaksudkan, pada waktu yang sama melibatkan berbagai subjek area
atau disiplin ilmu, sehingga sering disebut sebagai Interdisiplinary Programme,
kegiatan lintas kurikulum atau pengajaran lintas bidang studi.
b.
Ciri-ciri Pembelajaran Terpadu
Dalam arti luas pembelajaran terpadu meliputi pembelajaran
dalam satu disiplin ilmu, terpadu antar beberapa bidang studi serta terpadu
dalam dan lintas siswa. Pada dasarnya pembelajaran terpadu menggunakan inquiry,
sehingga siswa terlatih untuk merencanakan sesuatu dan menemukan sendiri
prinsip dan konsep atau konsep dengan menggunakan berbagai macam sumber.
Keterpaduan pembelajaran tidak hanya dalam hal content (isi) melainkan meliputi
keterpaduan dalam hal skills atau keterampilan proses dan terpadu antara
kurikulum sekolah dengan kebutuhan siswa. Guru diperlukan memiliki wawasan yang
luas tentang sains dan nilai agama, kemanusiaan, social, budaya, seni, dan
etika.
Pembelajaran terpadu memilki karakteristik dan cir-ciri
sebagai berikut :
·
Proses pembelajaran terpadu berpusat pada anak
·
Memberikan pengalaman langsung pada anak
·
Pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas
·
Dapat menyajikan konsep dari beberapa bidang
studi dalam suatu proses pembelajaran
·
Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan
minat dan kebutuhan anak
Dalam arti sempit pembelajaran
terpadu adalah keterpaduan antar bidang studi. Menurut Wahidin (2006 : 82-85)
Adapun spesifiknya adalah :
Sequenced,
merupakan tipe pembelajaran terpadu antar bidang studi yang
paling sederhana. Dua bidang studi yang memiliki persamaan materi yang
diajarkan dalam waktu yang bersamaan, sehingga antar kedua bidang studi
tersebut nampak ada kaitannya
Shared,
keterpaduan tipe ini merupakan binokuler. Beberapa orang guru bidang studi yang
mengajarkan konsep atau melatih keterampilan yang sama berbagai ide untuk
membahas materi tersebut.
Webbed,
keterpaduan terwujud dalam bentuk pendekatan tematik berfokus pada tema
tertentu dikembangkan pengajaran yang menyangkut berbagai konsep dan beberapa disiplin
ilmu.
Threaded,
keterpaduan terwujud dalam bentuk pendekatan materi kurikulum, yaitu bertolak
dari gagasan yang merupakan benang merah dikembangkannya pengajaran yang
melibatkan macam keterampilan berfikir.
Integrated,
keterpaduan bertolak dari isi pengajaran masing-masing mata pelajaran
kemudian dicari persamaan konsep, keterampilan, dan sikap yang ingin
dikembangkan.
Immersed,
model pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran dalam satu
proyek.
2.
Fungsi dan Pemilihan Media
Kata “media” berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari
kata “medium,” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar . Dengan
demikian, media merupakan wahana penyalur pesan. Dalam proses belajar mengajar
kehadiran media sangat penting, karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan
bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai
perantara. Kerumitan bahan yang disampaikan kepada anak didik dapat
disederhanakan dengan bantuan media-media yang mewakili apa yang kurang mampu
guru ucapkan melalui kata-kata atau hal tertentu. Keabstrakan bahan dapat
dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah
mudah memahami daripada tanpa bantuan media.
Media
Sebagai Alat Bantu
Media sebagai alat bantu mempunyai fungsi memudahkan jalan
menuju tercapainya tujuan pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa
proses pembelajaran denagn media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam
tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar anak didik dengan
bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik
daripada tanpa bantuan media.
Media Sebagai Sumber Belajar
Belajar mengajar adalah suatu yang mengolah sejumlah
nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. Udin Saripudin dan Winata Putra
(199;65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu manusia,
buku/perpustakaan, media masa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Karena
itu, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai
tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.
Media pendidikan ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik.
Media sebagai sumber belajar diakui sebagai alat
bantu auditif, visual, dan audiovisual. Penggunaan ketiga sumber belajar tidak
sembarangan, tetapi harus di sesuaikan dengan perumusan tujuan intruksional
dengan disertai kompetensi guru itu sendiri.
Pemilihan Media
Pemilihan media yang terbaik untuk tujuan
intruksional bukan pekerjaan mudah, karena setiap media pengajaran dan memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pemilihan media yang sesuai dalam
pembelajaran sangat diharapkan, dimaksudkan jangan sampai ada kesalahan dalam
memilih media menjadi penghalang dalam pembelajaran. Ibrahim dan Nana
(1991:153)
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih
media yang tepat.
1)
Jenis kemampuan yang akan dicapai, sesuai dengan tujuan
pengajaran
2)
Kegunaan dari berbagai jenis media itu sendiri
3)
Kemampuan guru menggunakan suatu jenis media
4)
Keluwesan dalam penggunaannya
5)
Kesesuaian dengan alokasi waktu dan sarana pendukung
yang ada
6)
Kertersediaannya, dan
7)
Biaya
By. Nurul Anisah B
0 Komentar :
Isi Komentar :
|