Pongel Cah Cirebon About Inderscience Contact Information Current Site Map General Help
  KUMPULAN JURNAL, MAKALAH, TA, SKRIPSI, MATERI

KONSEP INOVASI PENDIDIKAN
Penulis :

Rabu, 25 Mei 2011 - 20:31:47 WIB


Abstracting/Indexing Services and Journal Lists


Rumusan Konferensi Dunia I tentang pendidikan Islam tahun 1977 di Mekah menurut Steenbrink dan Syed Ali Ashrof, bahwa :
•    Pendidikan islam menyiapkan seseorang untuk hidup di jalan Allah
•    Pengetahuan Digerakkan oleh nilai-nilai spiritual, moral, dan etika Islam
•    Bukan mengisi otak siswa dengan informasi, tetapi menghaluskan akhlak siswa, mendidik jiwa dan menanamkan nilai-nilai kebajikan.
(Mark R. Word, Editor “JALAN BARU ISLAM”, 1999)
Nabi Muhammad merupakan sesorang yang disiapkan dalam pendidikan Islam untuk hidup dijalan Islam. Yang memiliki kelemah lembutan sikap dan prilaku yang selaku juru pendidik yang layak dijadikan “uswatun hasanah” karena telah berhasil memberikan bimbingan.

RASULULLAH bersabda, "Sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar”.  

Guru yang “digugu dan ditiru” oleh murid-muridnya di depan kelas atau dilingkungan sekolah. Secara umum, paling tidak seorang guru harus memiliki beberapa sifat, yaitu: zuhud, ikhlas, suka mema’afkan, memahami tabi'at murid, berkepribadian yang bersih, bersikap sebagaimana bapak terhadap anaknya dan menguasai mata pelajaran yang menjadi bidangnya. Seorang guru wajiblah mengajar muridnya karena Allah semata – bukan karena yang lain, sehingga ia berbuat dengan penuh nasehat kepadanya, dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, dan bersikap ramah kepadanya pada saat ia tidak mampu menanggung beban latihan yang ia berikan kepadanya. Guru yang memberikan contoh dan teladan yang baik bagi peserta didiknya, sehingga anak didik mengalami perubahan prilaku lebih dewasa dikemudian hari.

Pengetahuan yang ditransfer kepada para siswa yang menjadi sasaran pendidikan, seharusnya Digerakkan oleh nilai-nilai spiritual, moral, dan etika Islam, yang bersumber dari Al Quran dan hadist. Bukan mengisi otak siswa dengan informasi, tetapi juga menghaluskan akhlak siswa, mendidik jiwa dan menanamkan nilai-nilai kebajikan. Pendidikan adalah realitas social aktivitas bimbingan yang dilakukan oleh para pendidik kepada para siswa, sesuai dengan latar belakang pengetahuan, keyakinan, norma dan nilai-nilai yang dianut mereka. Melihat fakta social berdasarkan realitasnya, Pendidikan Islam misalnya sudah berlangsung mengejar target kurikulum, para guru agama dikejar untuk menyusun satuan pelajar untuk pedoman, sehingga kesempatan memberikan bimbingan kepada para siswa seringkali terabaikan. Pendidikan tidak lagi berlangsung sesuai dengan maknanya, melainkan terjadi sebagai proses pengajaran yang cenderung lebih mengedapankan transfer ilmu, dari pada bimbingan hidup kearah moralitas para siswa, pengajaran yang lebih didominasi oleh kegiatan transfer ilmu, mempunyai visi mencerdaskan akal para peserta didik, sedangkan pendidikan seharusnya didominasi oleh kegiatan bimbingan yang mempunyai visi membangun mental para siswa, agar menjadi anak didik yang bermoral, serta siswa membutuhkan bimbingan, tuntutan prilaku agama  yang realistis sesuai tantangan kehidupan modern yang sedang dihadapi. Nilai-nlai moralitas inilah yang dikembangkan oleh Emile Durkheim dan Ibnu Khaldun.

Pembelajaran democracing teaching berpusat kepada siswa dalam penentuan sumber belajar sesuai realitas sosial-fakta sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat. Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak dijurnalhu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

Pendidikan yang bisa dikembangkan dalam rangka menghadapi era globalisasi, era transformasi, informasi dan reformasi menuju tercipnya masyarakat madani  adalah :
1.    model pendidikan yang positif –Evolusionis (jelas dan bertahap, melalui proses yang dievaluasi),
2.    Pendidikan yang Ineraksionis-fenomenologis (ada komunikasi timbale balik, dialogis, sehingga timbul pemahaman  yang interaktif antara guru dan siswa, pendidik dan peserta didik),
3.    model pendidikan fungsionalis-sistematik (dengan melibatkan fungsi-fungsi social masyarkat yang terkait secara structural, memberdayakan institusi, organisasi dan pranata social budaya, ekonomi, dan politik yang berkembang dalam kehidupan nyata masyarakat), serta
4.    Model pendidikan konflik-integratif (dengan menumbuhkan kesadaran untuk bisa menerima kenyataan adanya perbedaan faham, perbedaan cara pandang, perbedaan adat istiadat, atau perbedaan system budaya).  Dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

Dengan adanya kecenderungan globalisasi dan keinginan untuk menyesuaikan tuntutan kebutuhan serta aspirasi bangsa Indonesia di masa depan akan membawa implikasi terhadap perubahan-perubahan kebijakan, khususnya dalam bidang pendidikan. Misi pendidikan nasional adalah menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kompetitif yang adaptable terhadap perubahan dan kebutuhan stakeholders.

Disamping itu, lembaga pendidikan dapat menjawab fenomena empat pilar pendidikan :

1.    Learning To Do
Artinya di dalam sebuah pembelajaran ada prinsip aktivitas (ada kegiatan)
* Hard Skills : keterampilan yang menuntut fisik
* Soft Skills : keterampilan yang menuntut intelektual

2.    Learning To Know
Artinya, tenaga kependidikan (Guru, pelatih, instruktur, dll) harus menjadi inspirator dalam pengembangan, perencanaan, dan pembinaan pendidikan dan pembelajaran. Hal ini juga secara eksplisit di cantumkan dalam PP no 19 tahun 2005, yaitu guru sebagai Agent Pembelajaran harus menjadi Fasilitator, pemacu, motivator, dan inspirator bagi para peserta didik.
Secara Implisit, Learning to know bermakna:

* Belajar Sepanjang Hayat (life long of education)
* Belajar bagaimana caranya untuk belajar (learning how to learn)


3.    Learning To Be (mandiri)
Artinya di dalam pembelajaran pendidik selain memberikan materi disertai dengan memupuk sikap mandiri kepada siswa yang membawa mereka mampu untuk hidup dihari esok dan seterusnya.

4.    Learning To Life Together (sosial)
Artinya, tenaga kependidikan (Guru, pelatih, instruktur, dll) tidak kira apapun taraf atau pangkat seharusnya melangkah bersama-sama sebagai agen atau pencetus ke arah perubahan masyarakat yang lebih baik dari segi nilai moralnya dan kehambaan kepada Tuhan.
Penilaian yang akan diberikan kepada siswa dilakukan ketika proses belajar berlangsung sesuai dengan kemampuan dan hasil life skill. Siswa memiliki keterampilan sosial yang baik dalam masyarakat, mampu mengembangkan pengamalan agama dalam realitas sosial misalnya sesorang murid mengucapkan salam ketika bertemu sahabat, orang yang lebih tua dengan bersalaman memupuk persaudaraan, bersikap ramah dan bergotong royong.


TANTANGAN PENDIDIKAN DAN DAKWAH  ARUS INFORMASI GLOBAL
Memasuki alaf ketiga atau abad dua puluh satu, ditemui suatu kenya¬taan, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. Ditandai dengan lajunya teknologi komuni¬kasi dan informasi (information technology). Suatu gejala yang disebut sebut sebagai arus globalisasi, “perdagangan bebas, per¬saingan yang tinggi dan tajam. Era globalisasi akan terjadi perubahan perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Menjadikan Tantangan pendidikan semakin berat serta membawa dampak yang cukup besar. Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik,  bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan, dan pendidikan).
Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti Televisi, dimana dengan mudahnya kita bisa melihat, mendengar informasi yang di butuhkan melalui jurnal, berbagai macam hiburan Talk Show, Sinetron, dan film yang semakin hari tidak dapat disaring lagi. Dewasa, remaja dan anak-anak tidak dapat terpisahkan oleh teknologi ini. Komputer dan Internet, selain mendapatkan informasi tetapi sekarang ini banyak diantara kita yang lebih menyukai tekhnologi ini dengan menggunakan untuk  face book, friendster, chatting, E-mail dan lain-lain sebagai ajang cari jodoh dengan alasan bersilaturahmi menjalin persaudaraan, dari pada menggunakan apa yang lebih bermanfaat.
Globalisasi mengakibatkan trjadinya Demoralisasi perubahan perilaku, terutama pada generasi muda (para remaja). Dunia remaja kita akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan.
a. Banyaknya tawuran pelajar, pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa. Pornografi yang susah dibendung. Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan bolos sekolah.
b. Kesukaan terhadap minuman keras.
c. Kecanduan terhadap ectasy (XTC), menjadi budak kokain dan morfin.
d. Kesukaan judi dalam urban popular culture, musro, world-wide sing, dan sejenisnya.
e. Para remaja cenderung bergerak terombang-ambing dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang globalisasi.

Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak  Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja. rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan. Dan profesi guru dilecehkan.

Hal ini berarti timbul keperluan agama untuk menjalankan rektualisasi firman-firma Allah dalam Al Quran sehingga ajaran Islam dapat dilibatkn untuk menerangkan globalisasi dalam berbagai kehidupan umat. Apabila ini tidak terjadi maka akibatnya terjadi kristenisasi yang sekarang terjadi secara bertahap, dimana kita para muslim sudah banyak yang mengesampingkan dalam menutup aurat, pemurtadan atau keluarnya seseorang dari agama Islam, dan melakukan pernikahan lintas agama dan berakibat terhadap agama yang dianut oleh anaknya kelak menjadikan kebimbangan dalam beragama.

Tantangan pendidikan akibat arus informasi globalisasi menimbulkan skularisasi; pemikiran dikotomi yaitu, cara pandang yang hendak memisah-misahkan kehidupan agama dan umum, pemisahan antara duniawi dan ukhrawi, politik dan agama, serta Ilmu umum dan Ilmu Agama. Padahal apabila ditinjau lebih luas, seharus hal demikian tidaklah harus terjadi. Hal umum atau kehidupan dunia sebaiknya diiringi dengan agama, sehingga terjadi keselarasan atau sinkronisasi. Karena sebenarnya Islam sendiri global, walaupun Islam berasal dari Arab dengan  kitab suci Al Quran yang berbahasa Arab, tetapi semua dapat membacanya memahaminya, dan menjalankannya serta  Islam telah tersebar diseluruh bangsa di dunia.

Disusun oleh :
1.    Annisa Lestari (07460800)
2.    Dian Maryani (07460802)
3.    Gina Marianti (07460806)
4.    Hilman Syaifullah (07460811)
5.    Nurul Anisah (B) (07460825)






0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)